Tidak Semua Luka Terlihat dan Tidak Semua Tangis Terdengar
Jujur, sebelum menjalani praktik klinik di stase keperawatan jiwa, saya merasa takut dan penuh pikiran negatif. Di kepala saya, pasien gangguan jiwa adalah sosok yang sulit diajak bicara, menyeramkan, dan tidak bisa dipahami. Tetapi ternyata, praktik ini menjadi salah satu pengalaman paling berharga yang pernah saya rasakan selama menjadi mahasiswa keperawatan. Hari pertama masuk ruangan jiwa, suasananya terasa berbeda. Saya mencoba terlihat tenang walaupun sebenarnya gugup. Saya memperhatikan beberapa pasien yang berjalan mondar-mandir, ada yang diam melamun, dan ada juga yang sibuk berbicara sendiri. Saat itu saya sadar, dunia keperawatan jiwa bukan hanya tentang penyakit, tetapi tentang perasaan manusia yang sedang terluka. Di sana saya bertemu dengan seorang pasien laki-laki paruh baya. Beliau lebih sering menyendiri dan jarang berbicara. Tatapannya kosong, tetapi entah kenapa saya merasa ada kesedihan besar yang sedang ia simpan. Awalnya saya bingung harus memulai percakapan dar...